Masjid Jami’ Baitul Yaqin Blitar merupakan salah satu masjid tertua di kabupaten blitar yang dibangun pada tahun 1861 oleh Kiai Hasan Mustaqim, seorang pengikut setia laskar Diponegoro. Masjid ini berada di Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok. Selain memiliki nilai historis tinggi, masjid ini juga dikenal sebagai tempat persembunyian Sudanco Supriyadi, pahlawan perlawanan PETA saat masa penjajahan Jepang. Hingga kini, bangunan utama masjid masih mempertahankan arsitektur joglo asli dengan tiang-tiang kayu jati dan ukiran khas Jawa.

Masjid jami’ baitul yaqin blitar tidak hanya digunakan untuk sholat lima waktu, tetapi juga aktif menyelenggarakan pengajian, tadarus, dan kegiatan tarekat. Suasana religius dan tradisional masih sangat terasa saat memasuki area masjid, menjadikannya salah satu destinasi wisata religi yang penting di blitar. Selain menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan, masjid ini juga merupakan warisan budaya yang terus dijaga dan dilestarikan oleh warga sekitar. Jika Anda sedang berada di blitar, sempatkan untuk berkunjung dan menapaktilasi jejak sejarah di tempat suci ini.

Masjid Jami Baitul Yaqin Blitar

Masjid Jami’ Baitul Yaqin Blitar: Simbol Keislaman dan Sejarah di Krenceng

Mengenal Masjid Jami’ Baitul Yaqin

Masjid Jami’ Baitul Yaqin Blitar merupakan salah satu masjid tertua dan bersejarah yang berada di Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Beralamat di Krenceng, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi saksi sejarah perjalanan Islam dan perjuangan bangsa di wilayah Blitar. Lokasinya yang tenang, arsitektur klasik yang khas, serta aktivitas keagamaan yang masih sangat hidup menjadikan masjid ini sebagai titik penting dalam spiritualitas masyarakat sekitar.


Sejarah Pendirian Masjid

Asal-usul Masjid Jami’ Baitul Yaqin

Masjid ini dipercaya didirikan pada abad ke-19 oleh para ulama yang merupakan bagian dari jaringan pesantren dan perjuangan kemerdekaan. Berdasarkan cerita masyarakat, masjid ini awalnya dibangun sebagai pusat dakwah Islam dan pendidikan keagamaan di tengah perkampungan Krenceng yang kala itu masih terpencil.

Jejak Laskar Diponegoro

Beberapa sumber menyebutkan bahwa pendiri masjid ini adalah seorang tokoh yang dulunya bagian dari Laskar Diponegoro yang kemudian menetap di Blitar setelah perang Jawa berakhir. Masjid ini kemudian menjadi pusat perlawanan kultural dan spiritual terhadap kolonialisme serta basis pengembangan ajaran Islam di wilayah selatan Jawa Timur.


Arsitektur dan Keunikan Bangunan

Desain Tradisional Jawa

Masjid Jami’ Baitul Yaqin masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya yang bergaya arsitektur tradisional Jawa. Ciri khas seperti atap limasan bertingkat dan empat soko guru (tiang utama) dari kayu jati masih dapat ditemui hingga kini.

Ruang Dalam yang Sakral

Ruang dalam masjid memiliki nuansa sederhana namun penuh kekhusyukan. Mihrab terletak di tengah ruang utama, dengan mimbar kayu asli yang masih digunakan sejak masjid ini pertama kali dibangun. Bagian lantai dilapisi dengan karpet sajadah dan dikelilingi oleh tembok tinggi dengan ventilasi tradisional.

Penambahan Fasilitas Modern

Untuk menyesuaikan kebutuhan jamaah saat ini, masjid telah dilengkapi dengan fasilitas modern seperti kipas angin, pengeras suara, toilet bersih, dan tempat wudhu yang representatif. Namun semua renovasi dilakukan tanpa mengubah bentuk asli bangunan utama.


Kegiatan Keagamaan Rutin

Shalat Jamaah Lima Waktu

Masjid Jami’ Baitul Yaqin selalu aktif melaksanakan shalat berjamaah lima waktu dengan kehadiran jamaah lokal yang cukup konsisten. Iklim spiritual di dalam masjid sangat terasa, terlebih saat waktu Maghrib dan Subuh.

Pengajian Rutin dan Majelis Taklim

Setiap pekan, masjid mengadakan pengajian kitab kuning, tahlilan malam Jumat, dan kajian tafsir Al-Qur’an. Kegiatan ini dibuka untuk umum dan seringkali menghadirkan ustaz lokal maupun dari luar kota.

TPA dan Pendidikan Agama Anak

Di bagian serambi masjid, tersedia ruangan khusus untuk kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) bagi anak-anak. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mendidik generasi muda mengenal Al-Qur’an sejak dini.


Masjid sebagai Titik Sejarah Perjuangan

Tempat Persembunyian Pejuang

Masjid ini juga memiliki nilai historis sebagai salah satu tempat persembunyian tokoh perjuangan Soeprijadi, pemimpin PETA yang memberontak terhadap penjajahan Jepang pada tahun 1945. Hal ini menambah nilai penting masjid dalam konteks sejarah kemerdekaan.

Makam Tokoh Ulama Lokal

Di sekitar masjid terdapat beberapa makam ulama yang menjadi rujukan ziarah masyarakat. Salah satu yang dikenal adalah makam Kiai Hasan Mustaqim, seorang ulama yang juga diyakini ikut dalam perjuangan dan dakwah Islam di Blitar.


Kontribusi Sosial dan Dakwah

Pusat Kegiatan Sosial

Masjid ini juga aktif dalam kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, pembagian zakat fitrah, penggalangan dana untuk bencana, hingga pelatihan wirausaha berbasis masjid. Peran masjid tak hanya terbatas pada ibadah semata, namun meluas ke bidang sosial kemasyarakatan.

Menjadi Contoh Masjid Mandiri

Masjid Jami’ Baitul Yaqin menjadi contoh masjid yang mandiri dalam pembiayaan dan kegiatan. Berbagai program pendanaan dilakukan oleh masyarakat dengan semangat gotong royong, termasuk dalam hal perawatan dan kebersihan masjid.


Lokasi dan Akses

Alamat Lengkap

Masjid ini terletak di Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur 66181. Lokasinya mudah diakses dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Akses Transportasi

Masjid ini berada tidak jauh dari jalur utama Blitar–Malang, menjadikannya mudah dijangkau oleh warga sekitar dan pengunjung dari luar kota. Area parkir di sekitar masjid cukup luas dan aman untuk para jamaah.


Tips Berkunjung

Waktu Terbaik

Disarankan berkunjung pada pagi atau sore hari untuk menghindari terik matahari dan menikmati keindahan masjid dalam suasana yang sejuk.

Etika Berpakaian dan Perilaku

Sebagai tempat ibadah yang sakral, pengunjung diharapkan berpakaian sopan dan menjaga ketenangan. Tidak diperkenankan mengambil foto tanpa izin di area makam ulama.

Interaksi dengan Takmir

Bagi pengunjung yang ingin tahu lebih dalam tentang sejarah masjid atau ikut kegiatan dakwah, dapat menghubungi pengurus takmir yang ramah dan terbuka untuk berdiskusi.


Dukungan Pemerintah dan Konservasi

Rehabilitasi Berkala

Meski masih mempertahankan banyak elemen bangunan asli, masjid ini mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan untuk dilakukan rehabilitasi ringan demi menjaga kelestarian struktur.

Dokumentasi Sejarah

Beberapa pelajar dan akademisi telah melakukan penelitian terhadap sejarah masjid ini dan menjadikannya bahan dokumentasi budaya dan sejarah perjuangan di Jawa Timur.


Testimoni Jamaah

Ibu Siti (Warga Krenceng)

“Masjid ini bukan hanya tempat kami salat, tapi juga tempat kami bertumbuh. Anak-anak saya belajar ngaji di sini sejak kecil.”

Bapak Slamet (Pengunjung dari Kediri)

“Saya datang ziarah ke makam ulama di sini. Masjidnya adem dan tenang, cocok untuk istirahat sejenak dari hiruk-pikuk kota.”


Penutup

Masjid Jami’ Baitul Yaqin Blitar adalah representasi dari kekuatan spiritual, sejarah perjuangan, dan kebersamaan masyarakat. Ia bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga pusat aktivitas sosial, edukatif, dan budaya yang tumbuh subur di tengah masyarakat Krenceng dan sekitarnya.

Dengan keaslian arsitektur, nilai sejarah yang mendalam, serta aktivitas yang aktif, masjid ini pantas menjadi salah satu masjid bersejarah yang perlu terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda maupun wisatawan religi yang berkunjung ke Blitar.

Scroll to Top